Sabtu, 19 April 2014





Batik Sederhana dengan Motif Bunga dan Daun

Kurikulum 2013 merupakan pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 bersifat tematik integratif yang menekankan pada tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran. Semua mata pelajaran harus dipadukan menjadi satu sub tema dalam sebuah pembelajaran. Misalnya, dalam pembelajaran kita ingin memadukan mata pelajaran seni rupa, ipa dan bahasa indonesia, kita dapat menggunakan tema batik sederhana pada proses pembelajaran. Dalam penerapannya di sekolah dasar, satu mata pelajaran yang diajarkan dalam proses pembelajaran di kelas saling berkaitan dengan mata pelajaran yang lain. Salah satu pembelajaran tematik yang bisa dilaksanakan adalah dengan menggabungkan mata pelajaran Seni Rupa, IPA, dan Bahasa Indonesia. Dalam pembelajaran Seni Rupa, siswa diminta untuk membuat karya sederhana seperti batik yang akan dapat meningkatkan skill mereka dalam menggambar. Kemudian dalam IPA, siswa diminta untuk menjelaskan hal-hal apa saja yang bisa digunakan dari lingkungan untuk membatik. Dan dalam Bahasa Indonesia, siswa bisa ditugaskan untuk membuat karangan atau menyampaikan di depan kelas mengenai karya batik sederhana yang mereka buat.
Batik adalah proses penulisan gambar pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax / malam) sebagai alat perintang warna. Teknik-teknik yang dapat digunakan untuk membuat batik diantaranya teknik menggambar motif di atas kain menggunakan canting, teknik cap (stempel), batik yang dibuat dengan menggunakan klise (hand printing), batik yang dibuat dengan teknik printing atau menggunakan alat mesin dan teknik menggambar motif di atas kain menggunakan kuas.
Dalam membuat batik sederhana, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
1.      Pelekatan malam atau lilin
2.      Pewarnaan
  1. Penghilangan malam atau lilin.

Untuk membuat batik sederhana di sekolah dasar, diperlukan beberapa hal yang digunakan untuk membatik yaitu:
  1. Crayon atau lilin yang digunakan sebagai perintang.
  2. Kertas gambar dengan ukuran yang disesuaikan untuk besar kecilnya gambar batik yang akan dibuat.
  3. Cat air atau pewarna makanan yang akan digunakan sebagai warna dasar batik yang akan dibuat.
  4. Kuas untuk memoles cat air pada kertas gambar.
  5. Pensil untuk membuat pola atau design batik yang diinginkan.

Adapun langkah-langkah untuk membuat batik sederhana, yakni:
  1. Pertama-tama siapkan kertas gambar sebagai media membatik
  2. Kemudian gambar secara tipis pola atau design batik yang diinginkan menggunakan pensil.
  3. Setelah itu tebalkan pola atau design batik yang telah dibuat menggunakan crayon. Saat menebalkan dengan crayon, usahakan untuk menekan sedikit agar crayon melekat dengan baik.
  4. Langkah selanjutnya setelah pola atau design batik ditebalkan dengan crayon adalah memberi warna pada seluruh permukaan batik menggunakan cat air atau pewarna makanan yang telah disediakan sebelumnya menggunakan kuas.
  5. Terakhir adalah kegiatan pengeringan pada gambar batik yang telah dibuat. Bisa diangin-anginkan atau menggunakan kipas angin untuk mempercepat proses pengeringan batik
  6. Gambar diatas merupakan batik sederhana karya saya sendiri yang dibuat menggunakan kertas gambar sebagai media gambar, crayon yang digunakan sebagai perintang antara warna dasar, serta cat air yang digunakan sebagai warna dasar pada gambar bunga yang saya buat.
7.      Yang menjadi kunci dalam pembuatan batik sederhana adalah ketelitian dalam memadupadankan warna antara warna crayon atau lilin yang digunakan untuk menebalkan pola atau design bunga yang dibuat dengan warna dasar. Jika warna dasar lebih terang, maka gunakan crayon atau lilin yang lebih lembut warnanya. Hal ini akan menimbulkan efek timbul pada gambar karena warna crayon atau yang digunakan tidak akan bercampur dengan warna cat air yang digunakan sebagai dasar.
By: Diah Puspithasari~

Review “Beban Dalam Pola Gambar Gunung Kembar”



Review “Beban Dalam Pola Gambar Gunung Kembar”

Suatu gambar yang selalu ada pada gambaran anak-anak yang mereka buat saat mendapatkan pelajaran menggambar adalah pola gunung kembar. Dengan pola gambar tersebut akan  tersisa dua ruang bidang gambar yang penggarapannya bisa melelahkan karena antara gunung dengan penggambar ada jarak yang amat luas dan amat jauh yang memaksa penggambar harus bersusah payah mengisi banyak objek dalam dua bagian lahan tersebut. Biasanya anak-anak akan menempatkan jalan lurus atau berkelok dan mengisi bidang kiri dan kanan dengan gambar petak-petak sawah atau  ruang berair sejenis danau atau laut, kemudian memberi sedikit hiasan rumah beserta pepohonan.
Bagi anak-anak sekolah TK dan SD kelas rendah, kondisi itu tidak terlalu memberatkan karena bagi mereka, isi tegalan bisa berupa satu rumah, satu pohon besar, satu orang, dan satu vas bunga. Tetapi bagi anak-anak kelas 5 dan 6 SD misalnya, apalagi remaja SMP dan SMA, mereka dibebani oleh keharusan mengisi ruang dengan objek gambar yang rasional.
Anak-anak yang pola berpikirnya telah mengikuti pola pikir teori gambar perspektif, di antaranya bisa mengatasi beberapa kendala pola gambar gunung kembar itu. Misalnya, mereka menemukan bahwa objek yang dekat dengan penggambar ukurannya lebih besar. Ada juga yang menemukan cara "perebahan" yang khas. Contohnya, ketika ada gambar objek jalan yang telah dibuat, maka gambar pohon, tiang listrik, rumah, atau objek lainnya direbahkan ke arah sisi jalan yang berbeda. Dan yang lebih unik, ketika ada gambar sebuah lapangan atau kolam dengan dasar gambar segi empat, objek-objek akan digambarkan rebah keempat arah sisi bentuk sebi empat objek. Satu pola lagi yang kerap ditemukan adalah pola susun yang biasa digunakan dalam lukisan tradisional. Objek disusun berderet ke arah bidang atas. Objek yang jauh ditempatkan lebih di atas.
Guru dan orang tua harus memperhatikan beban berat yang dihadapi anak-anak ketika mereka telah sangat terikat pola gambar gunung kembar. Anak-anak akan menghadapi bidang gambar yang harus diisi begitu banyak objek, sementara mereka memiliki keterbatasan imajinasi. Solusinya adalah dengan  mengenalkan pola perspektif objek kepada anak, misalnya benda-benda yang ada di alam tidak berposisi sama semuanya, jika anak akan menggambar alam, sebaiknya melihat langsung alamnya. Guru dan orang tua sebaiknya menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan membebani siswa. By: Diah Puspitasari~